YOGYAKARTA (wartakonstruksi.com) – Kawasan kumuh menjadi problem yang terjadi di setiap kota. Penanganan sistematis dan berkelanjutan akan mengurangi kawasan kumuh perkotaan. Imbasnya peningkatan taraf hidup masyarakat. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh yang dilakukan Balai Prasarana Permukiman Wilayah (PPW) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tahun ini, Balai PPW menggelontorkan dana untuk pembangunan di permukiman padat penduduk di kawasan Sungai Gajah Wong Kelurahan Muja Muju, Kota Yogyakarta. Pembangunan ini menuntaskan pekerjaan tahun sebelumnya.
Baca juga
PPK Pengembangan Kawasan Permukiman Balai PPW, Fery Yuliatna ST M.Eng mengatakan, lokasi pekerjaan merupakan kawasan padat penduduk yang berada di tepi Sungai Gajah Wong. Kondisi permukiman yang tepat berada di tepi sungai bisa digolongkan dalam kondisi kumuh.
"Posisi rumah membelakangi sungai sehingga pada bagian belakang sungai digunakan untuk tempat pembuangan sampah dan kandang ternak (ayam dan bebek). Talud Sungai Gajah Wong juga sudah mengalami kerusakan pada beberapa bagian," ungkap Fery kepada Wartakonstruksi.com.
![{$lg[1]}](https://mail.wartakonstruksi.com/upload/07-2019/Instalasi-Hydran--27-12.jpg)
Pembangunan dengan anggaran tahun ini sebesar Rp 2,5 miliar, mengutamakan jalan inspeksi tepi sungai. Pembangunan jalan inspeksi ini meliputi jalan paving, pagar ralling, pot taman, lampu penerangan jalan sepanjang 200 meter dengan lebar 2,5-3 meter.
Sebelumnya, lanjut dia, warga yang berada di tepi sungai dengan sukarela mundur 3 meter, selanjutnya warga yang terdampak tersebut akan mendapat pengembalian dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota dengan kegiatan RTLH.
Pembangunan talud sungai dan sekaligus pengaman jalan inspeksi dilakukan sepanjang ± 100 m. "Diharapkan dengan adanya jalan inspeksi ini warga memiliki ruang depan yang lebih tertata," harap dia.
Selain itu, masih ada beberapa item pekerjaan yang dikerjakan antara lain untuk menghindari luapan air hujan, pihaknya membangun Saluran Air Hujan (SAH), karena SAH eksisting sudah tidak mampu menampung luapan air saat musim hujan. Saluran yang dibangun sepanjang ± 350 meter.
Kemudian pembangunan instalasi hydrant, solusi untuk proteksi kebakaran di kawasan padat penduduk, serta pembangunan intalasi biofil untuk pengolahan limbah rumah tangga, karena terdapat IPAL yang sudah tidak bisa menampung dengan baik karena kapasitas berlebih. "Progres pelaksanaan di lapangan berjalan baik, saat ini mencapai ± 65 persen," pungkasnya.
| Penulis | : D-PS |
| Editor | : Sodik |