YOGYAKARTA (wartakonstruksi.com) – Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) menjadi gairah baru bagi DIY. Pembangunan bandara terus dikebut agar bisa beroperasi penuh pada akhir tahun 2019 ini. Di sisi lain, sejumlah sarana pendukung terus disiapkan guna mendukung operasional bandara, termasuk akses transportasinya.
Baca juga
Sejauh ini, layanan transportasi pendukung operasional Bandara YIA memang masih belum optimal. Tapi itu bisa dimaklumi lantaran bandara memang belum beroperasi penuh. Kendati begitu, kesiapan sarana pendukung ini sangat penting agar layanan terhadap masyarakat yang akan mengakses bandara bisa memuaskan, saat bandara ini beroperasi penuh dan seluruh penerbangan domestic dan internsional dari Bandara Adisutjipto dialihkan ke Bandara YIA.
Masyarakat yang akan mengakses bandara YIA baik dari DIY maupun sekitarnya seperti Purworejo, Kebumen dan Magelang , saat ini bisa menggunakan sejumlah moda transportasi darat. Dari Kebumen, misalnya, ada 4 armada bus Damri yang disiapkan untuk mengangkut penumpang menuju bandara dengan estimasi waktu tempuh selama 98 menit.
Pilihan lainnya ada kereta api. Untuk menuju Bandara YIA, masyarakat bisa naik kereta api dari Stasiun Kebumen menuju Stasiun Wojo. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan shuttle Damri. Ada dua unit armada yang disiapkan untuk mengangkut penumpang menuju bandara dengan waktu tempuh 10 menit. Atau masyarakat juga bisa memilih transportasi taxi untuk menuju bandara YIA dari Kebumen.
Dari Magelang, bandara YIA dapat diakses juga dengan 4 armada Bus Damri dari Hotel Wisata Magelang dengan estimasi waktu tempuh 100 menit. Atau bisa memilih moda transportasi taxi menuju bandara baru.
Dari Yogyakarta, Damri menyiapkan 12 armada bus untuk transportasi menuju Bandara YIA. Bus berangkat PP dari Pool di Ringroad Timur, Wonocatur, Banguntapan dengan durasi tempuh sekitar 90 menit. Armada lain yang disiapkan ada Stelqu sebanyak 10 armada. Atau masyarakat bisa menggunakan taxi maupun transportasi online dengan biaya yang lebih mahal.
Bagi yang memilih menggunakan kereta api dapat memanfaatkan rute dari Stadiun Maguwo- Lempuyangan- dan Tugu menuju Stasiun Wojo. Estimasi waktu tempuhnya selama 60 menit. Sedangkan estimasi waktu dari Stasiun Tuju menuju Stasiun Wojo, sekitar 30 menit.
Selain itu, pemerintah tengah berupaya mengoptimalkan layanan kereta api ini. pemerintah bersiap membangun jalur kereta trase baru dari Stasiun Kedundang menuju Bandara YIA. Stasiun itu sendiri, saat ini tidak digunakan namun akan segera dibangun dan diaktifkan kembali dalam waktu dekat. Proses pembangunan jalur kereta menuju bandara, baru sampai tahap pendataan aset warga yang terdampak proyek sepanjang 5 kilometer tersebut.
Persiapan-persiapan itu tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Selama proses berjalan, diperlukan sarana pendukung yang bisa dimanfaatkan agar pelayanan bisa tetap optimal, sembari menunggu sarana pendukung utama siap digunakan. Salah satu sarana ini adalah sarana transportasi menggunakan bus, baik dalam kota maupun sarana untuk memfasilitas bus lintas kota.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Sigit Sapto Raharjo mengakui, mengoptimalkan layanan akses menuju bandara butuh waktu yang tidak sebentar. Karena itu pihaknya tengah berupaya menyiapkan sarana pendukung dan mengoptimalkan sarana yang ada agar kemudahan akses menuju bandara baru bisa terpenuhi.
“Nantinya kan memang memaksimalkan transportasi massal salah satunya kereta api. Tapi sampai kereta api itu siap, harus ada sarana lain yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk mengakses bandara,” ucap Sigit.
Dia mengungkapkan, dari beberapa kali percobaan yang dilakukannya, sarana transportasi dengan kereta api memang terbilang memadai. Hanya saja dari sisi waktu, terbilang tidak cukup efektif. Apalagi pengguna jasa kereta api belum bisa langsung mengakses bandara tapi transit terlebih dulu di Stasiun Wojo, baru kemudian dilanjutkan dengan shuttle bus milik Damri.
Kondisi itu, kata dia, tidak bisa berlangsung lama apalagi jumlah penerbanyak di Bandara YIA akan sangat padat setelah penerbangan dari Bandara Internasional Adisutjipto dialihkan sepenuhnya ke bandara YIA. Dengan jumlah penerbangan yang sangat banyak itu, penumpang sangat tidak mungkins emuanya terakomodir melalui angkutan kereta api.
“Ini yang coba kita lihat, kita ingin ada fasilitas tertentu yang bisa digunakan untuk mengakomodir penumpang. Fasilitas itu juga bisa digunakan untuk akses bagi bus besar, meski hanya sekadar untuk transit menurunkan penumpang,” jelasnya.
Fasilitas itu, lanjut Sigit, berupa simpul baru yang akan dibangun di dekat Koramil Temon, Kulon Progo. Simpul baru akan memanfaatkan tanah kas desa, dan pengelolaannya ke depan juga akan diserahkan kepada masyarakat sekitar untuk mendongkrak perekonomian mereka.
“Semuanya nanti harus diurus perizinannya, tetap harus dengan izin Gubernur karena yang digunakan tanah kas desa. Tapi prinsipnya nanti kalau sudah jadi itu, bus besar bisa masuk misalnya dari Cilacap, Kebumen, Purwokerto dan lainnya. Masuk ke simpul baru itu, menurunkan penumpang terus jalan lagi,” paparnya.
Penumpang, lanjut dia, juga bisa memanfaatkan simpul itu sekadar untuk transit. Nantinya, Angkasa Pura diharapkan memfasilitasi sarana menuju bandara, baik dengan shuttle bus dari simpul baru atau dengan sarana lainnya.
GM Angkasa Pura I, Agus Pandu Purnama menambahkan, saat ini ada beberapa sarana transportasi yang digunakan untuk mengakses bandara YIA, antara lain Damri, Stelqu,Taxi, dan angkutan khusus.
| Penulis | : O-Kz |
| Editor | : Dodi Pranata |