Pembangunan infrastruktur di Indonesia terus digenjot oleh pemerintah saat ini. Mulai dari jalan tol, bandara dan juga pengembangan destinasi pariwisata di berbagai tempat. Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Magelang adalah dua kabupaten yang akan merasakan program pembangunan prioritas tersebut.
Pembangunan bandara Yogyakarta International Airpot (YIA) di Kulonprogo pasti akan merubah banyak hal, baik di bidang ekonomi, sosial dan budaya masyarakat setempat. Bandara yang dibangun di atas lahan sekitar 600 hektare dengan biaya kurang lebih 6,5 triliun tersebut digadang gadang menjadi salah satu bandara terbesar di Indonesia.
Dengan dibangunnya YIA tersebut diharapkan dapat mendatangkan jutaan wisatawan baik domestik ataupun asing untuk berkunjung ke destinasi wisata terutama ke Candi Borobudur di Magelang.
Candi Borobudur juga dinobatkan sebagai salah satu target pembangunan super prioritas. Untuk percepatan pembangunan kawasan Borobudur dibuatlah Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Badan Otorita Pariwisata (BOP). Target wisatawan di Borobudur adalah 4 juta wisatawan domestik dan 2 juta wisatawan asing per tahun.
Melihat kedua program pembagunan tersebut baik di Kulonprogo atau di Magelang, penulis sebagai pengamat yang tinggal di antara perbatasan Magelang-Kulonprogo sangat mengharapkan adanya partisipasi aktif dari masyarakat lokal setempat. Masyarakat lokal harus ikut berkiprah dan ikut merasakan dampak positif dari yang namanya pembangunan.
Masyarakat lokal jangan hanya dijadikan sebagai penonton dari proses pembangunan. Tidak sedikit namanya pembangunan memarginalkan masyarakat lokal baik secara fisik, pemikiran dan secara kebudayaan.
Pemda Magelang dan Pemda Kulonprogo sebagai pemangku wilayah pun jangan cuma "ndomblong". Tidak dapat memaksimalkan kemanfaatan dari dua pembangunan ekonomi tersebut. Pemimpin harus bersama rakyat, bersama masyarakat mengambil dampak positif baik secara ekonomi atau pun sosial budaya.
Selamatkan tanah tanah masyarakat lokal, selamatkan budaya, karakter serta kearifan lokal dari roda pembangunan yang cenderung kapitalis dan menggilas masyarakat serta budaya lokal.
Orang Borobudur harus menjadi tuan rumah di Borobudur. Orang Temon Kulonprogo harus menjadi tuan rumah juga di rumahnya sendiri. Jangan sampai hanya menjadi penonton apalagi terpinggirkan dan terbuang.
Salam dari desa
"Dari Ndeso Untuk Indonesia"
Anang Imamuddin, Presidium Front Aliansi Umat Islam Bersatu (FA UIB) Jateng-DIY.