SOLO (wartakonstruksi.com) – Sebanyak 377 pohon peneduh akan terkenda dampak pembangunan fly over Purwosari. Namun alih-alih menebang ratusan pohon di Jalan Slamet Riyadi itu, DLH Solo memilih memindahkannya ke tempat lain.
Kepala DLH Solo, Gatot Sutanto, mengatakan pihaknya akan mengupayakan agar pohon-pohon itu dipindah ke lokasi lain, bukan ditebang. “Eman-eman kalau ditebang,” ucapnya.
Baca juga
Menurut rencana, pohon-pohon ini akan dipindahkan ke beberapa lokasi di Solo, seperti Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), lahan eks-makam Mojo di Kentingan dan area sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo.
Meski begitu, pada pantauan Sabtu (11/1/2019) pagi, beberapa pohon besardi Jalan Slamet Riyadi persisnya di sebelah barat stasiun Purwosari mulai ditebang.
![{$lg[1]}](https://mail.wartakonstruksi.com/upload/01-2020/tebang-pohon--11-14.jpg)
Masih dari hasil pantauan, pekerja dari PT Wijaya Karya selaku pemenang tender proyek tersebut sudah mulai melakukan survey pengukuran di lapangan. Pengukuran tanah dilakukan dengan menggunakan alat total station. Alat ini digunakan merupakan alat yang digunakan untuk mengukur jarak dan sudut (sudut horizontal dan sudut vertical) secara otomatis.
Pengukuran dilakukan di beberapa titik lokasi agar didapat hasil yang akurat untuk dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembangunan sebuah bangunan, dalam hal ini konstruksi fly over. Nilai proyek fly over Purwosari sebesar Rp 104.6 miliar ndlosor dari Rp 150 miliar, digarap PT. Wijaya Karya.
| Penulis | : WK-005 |
| Editor | : Sodik |