Jadi Tempat Mancing, Pelabuhan Tanjung Adikarto Diharap Cepat Beroperasi
Senin, 03 September 2018 08:27 WIB
KULONPROGO (wartakonstruksi.com) – Megaproyek Pelabuhan Tanjung Adikarto yang sempat menjadi salah satu kebanggaan DIY, ‘mati suri’. Sejak mulai digarap 14 tahun silam, pelabuhan yang berada di Desa Karangwuni, Wates, Kulonprogo belum juga beroperasi. Proyek pelabuhan yang menyedot anggaran cukup besar itu kini lebih banyak digunakan untuk liburan dan tenpat memancing ikan. Masyarakat sekitar pun berharap pelabuhan segera beroperasi. Lokasi pelabuhan memang bersebelahan dengan obyek wisata Pantai Glagah dan lokasi megaproyek pasir besi yang digarap PT Jogja Magasa Iron (JMI). Saat wartakonstruksi.com melihat langsung kondisi pelabuhan, terlihat banyak anak muda berkunjung. Baca juga: Mereka banyak bergerombol memenuhi beberapa kantin yang buka. Mereka mengobrol sambil menikmati hidangan yang sudah tersedia. Berjalan ke arah pantai, di sana juga tidak kalah ramai. Di kanan kiri tetrapod yang berfungsi sebagai pemecah ombak cukup banyak orang yang memancing sambil menikmati suasana pinggir laut. Seorang pemancing, Sutono, mengaku masih tidak habis pikir mengapa pelabuhan tidak kunjung beroperasi. "Saya bertanya-tanya, kenapa kok enggak dilanjutin lagi. Sebenarnya bagus kalau ada pelabuhan ini. Harapannya cepat jadi," ucap Sutono.

Bangunan berdiri kokoh di kompleks Pelabauhan Tanjung Adikarto. Sayang bangunan belum difungsikan karena pelabuhan belum beroperasi. Foto: Arif Fadholy

Menurutnya, bila pelabuhan itu sudah beroperasi, maka banyak lapangan kerja akan terbuka. Sutono juga berharap, setidaknya warga bisa bekerja sebagai tukang parkir atau di ditempatkan di pelelangan ikan. Di tempat terpisah, salah satu penjaga kantin di sekitar pelabuhan tersebut, Dila, mengungkapkan pekerjaan terakhir dilakukan di pelabuhan itu pada tahun lalu. “Tidak mandek, tapi bertahap. Memang sempat terhenti karena break water- nya kurang panjang,” katanya. Diketahui, pembangunan fisik Pelabuhan Adikartu sudah mencapai 90 persen. Pembangunan pelabuhan perikanan itu terhenti karena mengalami perubahan desain, khususnya untuk pembangunan pemecah ombak.

Tartapod break water Pelabuhan Tanjung Adikarto menjadi tempat wisata di Kulonprogo. Foto: Arif Fadholy

Untuk pemecah ombak sisi sebelah timur yang telah terealisasi 220 meter, akan diperpanjang menjadi 390 meter. Sedangkan untuk sebelah barat, yang sebelumnya terealisasi 225 meter akan diperpanjang hingga 350 meter. Diperkirakan, anggaran untuk break water mencapai Rp400 miliar. Sekda DIY Ir Gatot Saptadi sebelumnya mengungkapkan, Pemda DIY mempertimbangkan untuk menawarkan penyelesaian pelabuhan Tanjung Adikarto kepada pihak ketiga. Saat ini tim percepatan infrastruktur DIY tengah melakukan kajian bersama tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemda DIY mempertimbangkan untuk mempihakketigakan Pelabuhan Tanjung Adikarto karena Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah lepas tangan dan Kementrian Pekerjaan Umum (PU) pun hanya memberikan support anggaran pemeliharaan. Sedangkan anggaran Pemda tidak memungkinkan untuk menyelesaikan megaproyek tersebut.   Jurnalis: Arif K Fadholy Editor    : Sodik
Penulis :
Editor : wkeditor
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News