YOGYAKARTA (wartakonstruksi.id) – Keberadaan Pasar Klithikan Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta selalu menarik diperbincangkan. Apalagi setelah menyeruak ke permukaan adanya jual beli kios yang terjadi di pasar itu dengan nilai yang cukup besar. Padahal, pasar disediakan secara gratis sebagai tempat relokasi pedagang pasar klithikan di sejumlah tempat.
Belakangan diketahui sejumlah pedagang yang rela melepas kiosnya dengan imbalan rupiah cukup besar, memilih beralih ke Pasar Senthir yang ada di selatan Pasar Beringharjo. Rupanya, pasar ini dinilai lebih menguntungkan secara ekonomis dibanding Pasar Klithikan Pakuncen.
Harianto, salah seorang pedagang barang bekas di Pasar Senthir mengungkapkan, ia sudah berjualan di tempat tersebut sekitar lima tahun. Sejauh yang ia rasakan, suasana pasar semakin hari semakin ramai, khususnya bila hujan tidak turun.
Baca juga:
"Kalau hujan ya bubar pasarnya.Â
Saya juga pulang soalnya pembelinya tidak ada. Di sini khusus barang bekas. Yang baru enggak ada," ucap Harianto kepada
wartakonstruksi.id.
Kondisi ini jelas berbeda dengan dengan kondisi di Pasar Klithikan Pakuncen. Pasar yang semula dibangun untuk menampung para pedagang klithikan dari sejumlah tempat, kini berubah dan didominasi produk-produk baru.
Harianto bercerita, sebelum berjualan di Pasar Senthir ia juga pernah berjualan di Pasar Klithikan Pakuncen selama dua tahun. Namun, ia memilih pergi karena berjualan barang bekas di sana kurang laku. "Lebih laku di sini. Biar pun hujan, lebih laku di sini. Di sana itu gak ada uang masuk. Kalau di sini ada uang masuk. Pengunjung sih banyak di sana, tapi uang masuknya yang gak ada," katanya.

Sebelum Pasar Klithikan Pakuncen dibuka, Harianto berjualan barang bekas di Jalan Mangkubumi (sekarang Jl Margo utomo). Di tempat itu ia berjualan cukup lama, lebih dari 10 tahun. Kemudian oleh Pemkot Yogyakarta dipindahkan di Pasar klithikan Pakuncen sebelum akhirnya ia memutuskan pindah lagi ke Pasar Senthir.
“Di Mangkubumi dan Pasar Senthir ramainya sama. Paling ramai setiap Sabtu malam, sedangkan waktu yang paling ramai jam 7 - 9 malam. Mudah-mudahan sih tidak dipindah, di sini kelihatannya gak ganggu. Kalau di Mangkubumi dulu kan ganggu. Soalnya di sini kan parkiran sampai jam 5, habis itu sepi," pungkas Harianto.
Pedagang barang bekas lainnya, Ari menambahkan, Pasar Senthir biasanya lebih ramai pada awal bulan. Kemudian, saat tahun ajaran baru. Meskipun pedagang barang bekas ini minoritas, tapi secara hasil cukup lumayan. Bahkan dalam sehari ada yang bisa meraup pendapatan hingga Rp 4 juta. Angka itu jika yang terjual adalah barang antic. Sedangkan untuk barang biasa pendapatan pedagang bervariasi antara Rp 200 – 300 ribu.
“Prospek barang antik semakin cerah karena barang antik semakin langka. Tapi memang tidak semua orang butuh barang antik dan tidak semua paham barang antik. Di sini, kita cuma menyewa. Kita membayar uang kebersihan per harinya Rp 2 ribu,†pungkas Ari.
Arif KF
| Penulis |
: |
| Editor |
: wkeditor |