Sedot Anggaran Rp 27 M, TBK Dijadikan Ikon Pengembangan Seni Budaya Kulonprogo
Selasa, 11 September 2018 12:30 WIB
KULONPROGO (wartakonstruksi.com) – Guna mendukung pengembangan kreativitas dan seni budaya di Kabupaten Kulonprogo, pada tahun ini mulai dibangun Taman Budaya Kulonprogo (TBK). Pembangunan dilakukan dengan anggaran sebesar Rp 27 miliar dan direncanakan selesai pada tahun depan. “Taman itu tempat, budaya itu mencurahkan cipta rasa dan karsa. Taman budaya ini yang memulai Kulonprogo, yang lain di DIY belum ada. Mudah-mudahan menjadi salah satu ikon untuk pengembangan seni budaya,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo kepada Wartakonstruksi.com, kemarin. Baca juga: Menurut Untung, sejak Dinas Kebudayaan lahir pada 2011, pihaknya merasa berkepentingan dan merasa perlu mempunyai tempat untuk mengembangkan seni budaya Kulonprogo. Hal itu melihat perkembangan seni budaya di Kulonprogo serta melihat sasaran perkembangan kebudayaan yang tidak semata-mata sekadar pentas saja. Taman budaya yang tengah dibangun terdiri dari 1 auditorium, panggung terbuka, tempat diskusi seni dan budaya, serta pendopo besar. Adanya 4 tempat itu, kata Untung, tidak hanya digunakan untuk pementasan, tetapi juga untuk menggali, menggagas, dan mengembangkan seni budaya.

Untung Waluyo, Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo. Foto: Arif K Fadholy

Proses pembangunan masih pada panggung terbuka (outdoor), pos kamling, dan lainnya. Dia berharap pada 2019 bangunan sudah jadi, sehingga dapat dioptimalkan sebagai pengembangan budaya atau aktivitas masyarakat yang lain. “Dengan adanya taman budaya itu, harapan kita juga berdampak pada pengembangan ekonomi. Karena di situ akan terpusat dan terkonsentrasi dalam berbagai aktivitas budaya. Kalau ada banyak orang terkumpul, berarti ada pasar baru dan berdampak pada pngembangan ekonomi rakyat,” paparnya. Untung juga berharap, generasi muda tergugah untuk ikut serta meramaikan taman budaya Kulonprogo. Saat ini di Kulonprogo ada art for children atau seni untuk anak-anak. Sekitar 120 anak-anak SD ada yang latihan tari, gamelan, seni tradisi angklung. “Daripada anak-anak itu kluyuran, lebih baik melakukan aktivitas budaya di tempat itu,” sambungnya. Taman budaya akan dikelola secara profesiona. Apabila nanti badan pengelola berbentuk UPT, lanjut Untung, ada aktivitas yang sifatnya rutin, komersial, dan ada sifatnya untuk latihan. “Kegiatan di taman budaya sekarang hanya mengisi kekosongan. Karena kalau sekarang kan masih proses pengerjaan,” pungkasnya.   Jurnalis : Arif K Fadholy Editor    : Sodik  
Penulis :
Editor : wkeditor
COMMENTS
Belum ada komentar dari pembaca

Opini

Popular News