YOGYAKARTA (wartakonstruksi.com) - Trend lelang awal tahun 2018 cenderung ndlosor, hal ini juga terjadi pada hasil pengumuman pemenang lelang dibeberapa organisasi perangkat daerah (OPD), tak pelak trend ini mendapat sorotan. Pasalnya, banyak pemenang lelang yang menawar dengan nilai ndelosor ( menawar turun jauh, red ) dari nilai pagu yang dilelangkan.
Dari informasi yang diakses dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ada beberapa paket lelang yang proses lelangnya sudah penetapan pemenang dan pemenangnya ndlosor, kini prosesnya tengah masuk pada tahap masa sanggah.
Sementara itu menurut salah satu pegawai di lingkup salah satu intstansi yang enggan disebutkan namanya mengatakan, Pihak pengguna jasa hanya menerima produk dari Unit Layanan Pengadaan (ULP).
"Itu kewenangan pokja pengadaan dalam memilih calon pemenang penyedia jasa, karena memang tidak ada instrumen bagi kami untuk menolaknya, dengan nada sedikit kecewa ia menerangkan.
Untuk implementasi pelaksanaan di lapangan sambungnya, dengan tegas mengatakan tidak ada perubahan dari spesifikasi teknis yang telah diminta dalam dokumen lelang, karenanya pengawasan dalam pelaksanaannya harus lebih ditingkatkan.
"Demikian ini supaya kualitas hasil pekerjaannya sesuai dengan yang direncanakan,"tandas dia.
Ia menambahkan, banyak faktor yang menyebakan kontraktor menawar dengan harga yang ndlosor, salah satunya penyebabnya adalah trend dan faham kalau ngak ngedan ngak keduman ( kalau tidak gila maka tidak akan kebagian, red )," tandasya.
Dirinya juga berharap kepada para pengusaha yang sering nawar ndlosor supaya pada insyaf, menawarlah dengan harga yang memang layak dan konsekuen dengan segala resikonya serta tanggung jawab terhadap apapun konsekuensi penawarannya,"pintanya. (WK-3)
| Penulis | : |
| Editor | : redaksiwk |