KULON PROGO (wartakonstruksi.com) — Pembangunan venue paralayang di Banjarasri, Kalibawang, Kulon Progo telah dinyatakan selesai. Namun kondisi sejumlah titik fasilitas dinilai mengkhawatirkan dan rawan longsor. Hal itu disampaikan Anang Sulthoni, aktivis LSM yang meninjau langsung lokasi tersebut.
Pada area awal proyek, Anang menemukan bahwa papan nama proyek sudah tidak terlihat di lokasi. Raibnya papan informasi tersebut menjadi tanda tanya, karena papan proyek merupakan kewajiban sebagai bentuk transparansi pelaksanaan pembangunan. Hilangnya papan nama menimbulkan pertanyaan mengenai keterbukaan informasi publik, terutama terkait nilai kontrak, penyedia jasa, jadwal pekerjaan, hingga pihak yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.
Baca juga
Anang menjelaskan bahwa berdasarkan pantauan lapangan, proyek pembangunan venue paralayang Giri Sembung tahun ini mencakup beberapa item pekerjaan, antara lain pembangunan area parkir roda empat, sebagian talud, serta area take off. Namun akses menuju area paralayang belum dibuka, dugaan itu muncul karena adanya pemasangan portal sehingga jalur hanya dapat dilalui kendaraan roda dua dan pejalan kaki.
Di sekitar area tersebut tampak bekas perkerasan di sisi kiri dan kanan jalan conblock. Tak jauh dari titik itu, akses mendekati venue utama dengan kemiringan cukup ekstrem juga ditutup portal berbahan bambu sehingga tidak ada kendaraan yang dapat melewati jalur tersebut.
![{$lg[1]}](https://mail.wartakonstruksi.com/upload/12-2025/ambles--10-09.jpg)
Pada bagian venue utama terdapat dua titik transit dan satu titik take off yang posisinya lebih rendah dan hanya dapat dicapai melalui tangga dengan pagar pengaman besi. Meski demikian, kualitas krom pada besi tersebut terlihat buruk dan banyak yang telah mengelupas, menunjukkan lemahnya mutu pengerjaan.
Permasalahan lain tampak pada tangga berbahan semen. Menurut Anang, hasil pekerjaan tidak rapi sehingga air menggenang di beberapa bagian lantai. “Kelihatan tidak rata, dan ini yang bikin cepat rusak,” ujarnya.
![{$lg[1]}](https://mail.wartakonstruksi.com/upload/12-2025/cat-crok-mengelupas--10-09.jpg)
Kondisi lebih mengkhawatirkan terlihat di area take off yang berada tepat di tepian jurang. Bagi pengunjung yang tidak terbiasa dengan ketinggian, lokasi ini sangat berisiko. Pengaman berupa rantai yang diikatkan pada tiang besi hanya dipasang beberapa meter dari ujung tebing. Lebih parah lagi, bagian bawah landasan tidak dilengkapi terasering sebagai penguat tanah. Yang tampak justru pagar bambu yang menopang ujung take off.
Selain itu, beberapa bagian paving di area take off juga mulai tampak sedikit ambles, semakin memperkuat kekhawatiran akan potensi longsor maupun kerusakan struktur dalam waktu dekat.
| Penulis | : WK 002 |
| Editor | : Dodi, S.H., M.H |